Narkoba (narkotika dan obat berbahaya) saat ini masih jadi musuh nomor satu masyarakat. Tak terhitung jumlahnya mereka yang bergelimpangan akibat menyalahgunakan zat adiktif yang satu ini. Padahal, narkoba alami seperti opium, kokain dan ganja harusnya digunakan untuk kepentingan kedokteran, di bawah pengawasan yang sangat ketat.
Fenomena narkoba seperti gunung es, yang terlihat di permukaan hanya sebagian kecil puncaknya saja, sementara bagian lain yang jauh lebih besar, tetap tersembunyi dan tak terlihat. Narkoba banyak menghinggapi generasi muda, menjadi penyakit mematikan yang membunuh masa depan secara perlahan-lahan.
Meskipun tahu zat ini berbahaya, mengapa banyak orang tetap memakai narkoba? Ternyata ada tiga alasan yang membuat seseorang tidak bisa terlepas dari narkoba.
- Anticipatory belief: seseorang menggunakan narkoba karena ingin dianggap hebat, jantan, dewasa, mengikuti tren, atau agar diterima di suatu komunitas tertentu.
- Relieving belief: menggunakan narkoba untuk mengusir kepenatan, cemas, stress, depresi, atau melarikan diri dari masalah yang dihadapi.
- Permissive belief: memakai narkoba karena menganggap zat ini merupakan hal biasa dalam kehidupan sehari-harinya, kondisi ini banyak menghinggapi kalangan selebriti yang merasa bahwa narkoba merupakan gaya hidup yang normal.
Apapun alasannya, mengkonsumsi narkoba jelas mendatangkan kerugian yang sangat besar bagi kesehatan. Berikut 10 bahaya narkoba bagi kesehatan yang wajib kamu tahu!
- Merusak sistem pernapasan
Narkoba yang dinikmati dengan cara dihisap seperti mariyuana, mengandung bahan beracun yang bisa membuat paru-paru iritasi. Akibatnya, pengguna akan merasa sesak napas, batuk, bronchitis, hingga infeksi paru-paru.
- Merusak peredaran darah
Lewat aliran darah, narkoba yang dihisap dapat diedarkan ke seluruh tubuh. Efek langsung dari hal ini adalah naiknya frekuensi detak jantung secara drastis dalam beberapa menit, yang bisa berujung pada serangan jantung. Pengguna narkoba juga biasanya bermata merah karena pembuluh darah di sekitar mata melebar.
- Gangguan sistem saraf pusat
Begitu masuk ke dalam tubuh, narkoba akan dikirim ke seluruh organ tubuh termasuk otak. Narkoba akan melepaskan dopamin yang membuat penggunanya terasa “fly”, bebas, tak ada beban, dan pikiran kosong. Dalam jangka waktu lama, pengguna bisa mengalami halusinasi, hilang kesadaran, dan kejang.
- Disfungsi hati
Narkoba yang dikonsumsi melalui mulut, seperti ganja, dapat memberikan sensasi tersengat atau terbakar pada mulut dan tenggorokan. Narkoba yang masuk lewat mulut akan langsung dicerna oleh hati. Jika dikonsumsi dalam jangka panjang, hati akan mengalami disfungsi hingga gagal bekerja.
- Merusak sistem imun
Banyaknya zat adiktif yang masuk ke tubuh dapat membuat sistem imun melemah. Tidak heran, pengguna narkoba jauh lebih rentan terserang penyakit daripada yang tidak mengkonsumsi narkoba. Pengguna juga biasanya bertubuh sangat kurus.
- Gangguan pada kulit
Narkoba yang dinikmati dengan cara disuntikkan, lama kelamaan akan membuat jaringan kulit terkena infeksi. Gejala yang umum terlihat biasanya lebam-lebam, berdarah, bernanah, hingga membusuk di dalam.
- Gangguan sistem reproduksi
Narkotika dan psikotropika yang dikonsumsi secara terus menerus dan berlebihan akan memerosotkan hormon reproduksi, serta menimbulkan disfungsi seksual pada pria dan wanita.
- Perubahan fungsi otak
Sistem saraf yang telah terserang narkoba tidak akan bertahan lama. Otak akan mengalami penurunan kinerja yang drastis. Hal ini dapat memunculkan patologis biologis, di mana seseorang tak lagi mempedulikan orang lain jika sudah berpikir tentang narkoba. Tak jarang, pengguna narkoba rela membunuh demi memuaskan kecanduannya.
- Merusak mental
Penggunaan narkoba jangka panjang dikaitkan dengan berbagai penyakit mental. Yang paling ringan adalah halusinasi, di mana pengguna kesulitan membedakan kenyataan dan hayalan. Sedangkan yang tergolong parah adalah schizophrenia, di mana seseorang kehilangan orientasi pada kenyataan.
- Menimbulkan paranoia
Pengguna narkoba kebanyakan akan mengalami takut secara berlebihan, sensitif dan mudah sekali tersinggung. Mereka juga tidak mudah percaya pada orang lain. Bahkan, mereka yang sudah kecanduan akan cenderung depresi, gelisah dan meningkatkan keinginan untuk bunuh diri pada kalangan remaja.









