Beberapa waktu yang lalu, masyarakat dihebohkan dengan kasus yang menimpa Ketua DPR, Setya Novanto. Pria yang lebih dikenal dengan sebutan Setnov ini disebut-sebut tertidur saat tengah diajak bicara, pasca kecelakaan yang terjadi padanya beberapa hari sebelumnya.

Sebenarnya, kondisi ini merupakan salah satu gejala dari gangguan tidur yang disebut dengan narkolepsi.

Perkiraan prevalensi/angka kejadian berkisar antara 2 dan 10 per 10.000 orang di Amerika Utara dan Eropa. Sedangkan di Jepang angka kejadian sekitar lima kali lebih tingggi. Gejala-gejala dari narkolepsi biasanya timbul antara usia 12 dan 30 tahun, meskipun ada pula kasus yang dilaporkan dengan onset sejak usia 2 tahun dan hingga akhir 76 tahun. Perbedaan gender tidak terlalu berpengaruh terhadap prevalensi kejadian.

Narkolepsi bisa dikatakan sebagai serangan tidur, di mana penderitanya amat sulit mempertahankan keadaan sadar. Hampir sepanjang waktu sang penderita akan mengantuk. Rasa kantuk biasanya hilang setelah tidur selama 15 menit, tetapi dalam waktu singkat kantuk sudah menyerang kembali. Sebaliknya di malam hari, banyak penderita narkolepsi yang mengeluh tidak dapat tidur.

Sebenarnya, apa sih yang terjadi pada tubuh penderita narkolepsi?
Gangguan terjadi pada mekanisme pengaturan tidur. Tidur, berdasarkan gelombang otak, terbagi dalam tahapan-tahapan mulai dari tahap 1, 2, 3, 4 dan Rapid Eye Movement (REM.) Tidur REM adalah tahapan di mana kita bermimpi. Pada penderita narkolepsi gelombang REM seolah menyusup ke gelombang sadar. Akibatnya kantuk terus menyerang, dan otak seolah bermimpi dalam keadaan sadar.

Nah, jika Anda mengalami gejala seperti di atas, segera berkonsultasilah pada dokter agar Anda segera mendapatkan perawatan yang tepat.

LEAVE A REPLY